Bangun Kamar Indehoi di Lapas, Suami Inneke Pasang Tarif Rp 650 Ribu

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Rabu (5/12) mengungkap fakta yang mengejutkan di dalam persidangan perdana mantan Kepala Lapas Sukamiskin, Wahid Husen. Di dalam dokumen setebal 19 halaman, jaksa KPK Trimulyo Hendradi mengungkapkan salah satu napi kasus korupsi yakni Fahmi Darmawansyah diizinkan untuk membangun bilik asmara berukuran 2X3 meter persegi.

Bangun Kamar Indehoi di Lapas, Suami Inneke Pasang Tarif Rp 650 Ribu

Ruangan itu diduga dibangun pada tahun 2017 dan dilengkapi dengan tempat tidur. Ruangan tersebut rupanya digunakan untuk berhubungan suami isteri bagi Fahmi dan narapidana lainnya. Namun, yang mencengangkan ternyata selain dibangun untuk kepentingan pribadi, Fahmi juga mengkomersialisasikannya.

“Ruangan berukuran 2X3 meter persegi yang dilengkapi tempat tidur itu digunakan untuk keperluan melakukan hubungan suami istri, baik itu digunakan Fahmi Darmawansyah ketika dikunjungi istrinya atau disewakan Fahmi Darmawansyah kepada warga binaan lain dengan tarif sebesar Rp650 ribu,” ujar jaksa Trimulyo ketika membacakan dakwaan pada pagi tadi.

Padahal, sesuai aturan internal lapas, pembangunan ruangan semacam itu apalagi dikomersialisasikan dilarang untuk dilakukan.

Di dalam dakwaannya, jaksa juga menguraikan di dalam selnya, Fahmi hidup dengan sangat nyaman. Selnya dilengkapi dengan berbagai fasilitas antara lain televisi jaringan kabel, pendingin udara, kulkas kecil, tempat tidur spring bed, furniture, dan dekorasi interior high pressure laminated (HPL).

Baca Juga : Dituntut 2 Tahun Penjara, Dhani : “Ini Kayaknya Balas Dendam”

Fahmi memang tergolong napi yang istimewa. Sebab, eks Kalapas Sukamiskin, Wahid Husen juga membiarkannya mengelola kebutuhan warga binaan di dalam lapas. Selain dibiarkan membangun bilik asmara, ia juga dibiarkan menawarkan jasa merenovasi kamar (sel) dan pembuatan saung.

Menurut seorang petugas lapas yang sempat IDN Times tanyakan pada Juli lalu, ada 39 saung yang terdapat di dalam bangunan itu. Saung itu akhirnya dibongkar oleh Direktorat Jenderal PAS Kemenkum HAM usai KPK melakukan operasi tangkap tangan (OTT). Sumber

35 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *